Menuai Nilai Kebaikan Melalui Peringatan Isra’ Mi’raj

Momen peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1446 H dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh SMKN 2 Trenggalek. Bersama-sama, para murid kelas X dan XI, guru segenap segenap tenaga kependidikan menggelar acara pengajian, Kamis (30/1). Hadir sebagai penceramah dalam kegiatan tersebut, H Drs Imam Sopingi MAg, Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Trenggalek.

Peristiwa historis Isra’ Mi’raj sangat erat kaitannya dengan perintah kewajiban salat lima waktu bagi umat muslim. Nilai tanggung jawab dan kedisiplinan terkandung di dalamnya. Jadi, sudah sepantasnya seorang muslim adalah pribadi yang istikomah. “Kita harus selalu istikomah dalam segala hal. Paling utama, rajin melaksanakan salat lima waktu,” tutur Drs Masrus Hanafi, Kepala SMKN 2 Trenggalek dalam sambutannya.

Hanafi berpesan untuk berusaha melaksanakan sebaik-baiknya nilai-nilai kebaikan yang terkandung dalam Isra’ Mi’raj, utamanya yang diwejangkan oleh penceramah. “Mari kita benar-benar melaksanakan apa yang akan disampaikan dengan baik. Semoga kita diberikan umur panjang dan meraih kebahagian,” pungkasnya.

Selanjutnya, H Drs Imam Sopingi MAg, dalam kajiannya memaparkan bahwa umat Nabi Muhammad SAW rata-rata memiliki umur yang lebih pendek dari pada umat terdahulu. Meski demikian, secara mutu, umat Rasulullah tidak kalah dengan umat sebelumnya bahkan merupakan umat terbaik. “Kita adalah umat yang secara umur lebih pendek dari umat nabi sebelumnya. Namun, kita memiliki kesempatan pahala yang banyak, barokah yang banyak,” terang Sopingi.

Keistimewaan umat Nabi Muhammad SAW tersebut salah satunya adalah salat lima waktu. Sejarahnya, Nabi diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, berlanjut naik ke langit menuju Sidrotul Muntaha. Perjalanan tersebut terjadi hanya dalam waktu satu malam. “Dalam Al Quran lafadz-nya adalah asro yang artinya memperjalankan. Maksudnya, perjalanan tersebut bukan keinginan Nabi tapi memang kehendak Allah Ta’ala,” terang Sopingi.

Pasca kejadian Isra’ Mi’raj, kala Nabi mengabarkan peristiwa tersebut sekaligus dengan membawa kewajiban salat, sahabat yang pertama kali mengimani dan membenarkan peristiwa tersebut adalah Abu Bakar Asshiddiq. “Maka gelarnya adalah Asshiddiq, artinya yang selalu membenarkan apa yang disampaikan Nabi. Meskipun terkesan sangat tidak masuk akal. Hikmahnya, apa pun yang datang dari Nabi kita pun wajib beriman dan mentaatinya,” tutut Sopingi.(*/fa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *